KELUARGA BARU SEMANGAT BARU

Tanggal 23 oktober 2015 selepas magrib hp yang tiap harinya nongkrong disaku celana berbunyi, ternyata teman diksar menelpon utk memastikan keberangkatan saya dan teman-teman yang lain di acara outdoort diksar 21 di daerah gowa (malino) manimbahoi. Sebenarnya teman-teman yang lain sudah berangkat pada tgl 22 kemarin namun karena saya masih ada satu dan lain hal yang musti diselesaikan jadilah saya berangkat besoknya pada tanggal 23 hari jumat. Saya dan teman-teman markas (KSR-PMI UNHAS) yang lain sepakat untuk berangkat malam setelah magrib agar tidak
terlalu terasa panas diperjalanan.


Selepas magrib kami berkumpul dimarkas dengan jumlahnya peserta yang akan berangkat sekitar 14 orang dengan 7 motor Sehabis packing dengan bawaan yang lumayan ringan selanjutnya melakukan ritual keberangkatan. Berdoa bersama…
Malam itu jalanan didalam kota Makassar cukup ramai dan lancar tak ada kemacetan yang berarti. Namun ketika melewati daerah antang rombongan kami sempat terjebak macet. Dikarenakan ada perbaikan jalan. Mungkin jika beberapa pengendara mau saling antri untuk member jalan kemacetan seperti ini dapat dihindari namun faktanya kendaraan besar dan kecilpun tak ada yang mau ngalah yah jadilah seperti ini. Sekitar 15 menit saya terjebak dijalanan setelah berhasil melewati kemacetan motorpun dipacu dengan agresif mengingat saya ada diposisi paling belakang dan teman-teman yang lain sudah lama keluar dari kerumunan macet.
Persimpangan samata merupakan jalur singkat untuk menuju kota malino. Dibandingkan lewat gowa-sungguminasa lewat samata akan lebih ringkas dan bisa menghemat waktu beberapa jam. Dipersimpangan semata teman-teman yang lain sudah dari tadi menunggu. didaerah ini perjalanan lumayan lancar tak ada hambatan yang berarti ditambah lagi jalanannya sudah diaspal semua saya kurang tau kapan pastinya jalanan ini selesai di aspal namun ditahun 2008 yang lalu sewaktu saya dan teman-teman fakultas kemalino jalan didaerah ini lumayan parah masih dalam tahap pengerasan dan tentunya debu-debu jalanan akan selalu menjadi teman setia anda diperjalanan.

Sekitar 30 menit perjalanan kami pun tiba di persimpangan jalan poros malino. Jalanan yang cukup menantang dengan tekstur perbukitan jalanan didaerah ini dibuat berkelok-kelok dengan jurang di sisi kanan. Jika kami berangkatnya siang tentunya mata kami akan dimanjakan dengan berbagai keindahan alam didaerah ini pemandangan gunung, sawah dan gunung lagi akan menjadi akrab dimata kita. Tapi karena kami berangkat malam jadilah kami konsen di pemandangan aspal dan hawa dingin khas hutan pinus menjadi teman setia dalam perjalanan. Sekitar  2 jam perjalanan kami tiba di persimpangan jalan menuju desa manimbahoi. Jalan menuju daerah tersebut cukup ekstrem dengan turunan yang begitu curam dan berkelok-kelok membuat kami harus ekstra hati-hati. Melewati jembatan beton kemudian tanjakan telah menanti didepan motorpun bekerja ekstra memacu roda agar bisa melewati kelokan-kelokan yang ada. Lagi-lagi udara dingin menemani kami diperjalanan namun kali ini udara dinginya begitu terasa jaket yang saya pakaipun masih bisa ditembus udara dingin didaerah ini.

Satu jam perjalanan sampailah kami di lokasi chek point desa manimbahoi (rumah warga tempat kami menitipkan motor). Sebelum melanjutkan perjalanan kami menyempatkan diri untuk beristirahat sejenak melepas lelah setelah beberapa jam bersepeda motor.Teman-teman yang lain melakukan berbagai aktifitas ada yang istirahat,ngobrol,sholat, ganti pakaian dll. Tak lama kemudian kamipun berkumpul untuk berdoa agar diperjalanan tidak ada aral melintang. saatnya untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki…!!!
Desa manimbahoi desa yang begitu asri dengan hamparan sawah terasering disisi kiri. Samar-samar pemandangan itu menampakkan diri dibawah sinaran bulan yang terhalang awan. Udara dingin lebatnya hutan menambah khusyunya perjalanan kami malam itu. Tanjakan dan tanjakan satu persatu anggota rombongan mulai terasa capek perjalananpun terasa lama karena harus menunggu teman-temna yang istirahat karena kecapean. Dan ternyata tampa kami sadari perjalanan sudah terlalu jauh masuk kedalam hutan. Kami melewatkan persimpangan tempat belok menuju lokasi camp. Ada beberapa teman yang pernah kesini cuman itu 2 tahun yang lalu itupun  mereka kesini sebagai peserta diksar (calon anggota KSR UNHAS) jadi ingatan mereka sangat terbatas ditambah lagi mereka berangkatnya malam jadilah mereka tidak mengingat persimpangan menuju lokasi camp. Setelah lama mencari akhirnya ketemu juga dan memang kemi sudah terlalu jauh melewatinya. Jalanan yang tadi dan sekarang tidak berbeda jauh tanjakan dan tanjakan cuman kami sedikit dimanjakan dengan aliran air disebelah kanan kami sehingga kami tidak terlalu kekurangan air untuk minum. Kata orang dan sayapun sependapat bahwa air digunung itu lebih mujarrab mengurangi keletihan kesetelah berjalan jauh.

kurang lebih 4 jam perjalanan dari rumah warga tempat penitipan motor sampailah kami dilokasi camp. Akhirnya bisa bersih-bersih badan, teman-teman yang lain ternyata masih banyak yang terjaga ngumpul di dekat api unggun segelas kopipun menyambut kedatangan saya dan rombongan. Kopi yang mungkin dikota tiap hari kita meminumnya dan rasanya biasa saja, namun sewaktu dipuncak kopi itu terasa nikmat sekali…  kopi yang luar biasa… duduk bersama teman-teman sambil mendengarkan lantunan lagu dibawah hamparan bintang dan dinding pohon-pohan yang berlumut sungguh pemandangan yang sangat menyejukkan hati. Kepenatan, rasa capek terbayar sudah dengan secangkir kopi yang luar biasa dan pemandangan alam liar yang menyejukkan hati…….

Mendekatkan diri di alam bebas merupakan terapi rohani yang sangat baik, alam mengajarkan kita banyak hal. kearifan-kearifan hidup bisa kita petik dari setiap sudut yang kita temui di alam bebas.menjaga alam adalah kewajiban dari setiap manusia melestarikan adalah upaya nyata dari kita untuk mewariskan keindahan alam ini kepada generasi yang akan datang. Lebih jauh kedepan hutan, gunung bukanlah sekedar tempat untuk melepaskan penat tapi lebih dari itu hutan dan gunung adalah guru, guru dikehidupan kita guru yang siap atau tidak ketika kita menyapanya mereka akan mengajarkan kita berbagai kearifan-kearifan hidup. Guru yang sangat ganas ataupun bisa menjadi guru yang sangat romantis. Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk menjaga alam ini. Maka mari kita memulainya dari hal-hal yang kecil misalnya ketika mendaki atau berpetualang di hutan dan gunung haraplah menjaga kebersihan jangan membuang sampah seperti bungkus permen, puntung rokok,bungkus kopi, bungkus cimilan dll. Jika melihat sampah sekecil apapun haraplah dipungut. Marilah kita mulai dengan hal-hal kecil dan seringkali kita anggap sepele, namun kita semua sepakat bahwa perubahan yang beras diawali dari hal-hal yang kecil dan sepele. Jika berpetualang hendaknya kita menempatkan diri sebagai bagian dari ciptaan tuhan merenungi kehidupan kita secara horizontal tentang kita dan alam agar menjauhkan kita dari sikap sombong bahwa saya dapat menaklukkan alam ini saya dapat menaklukkan tanjakan ini, saya dapat menaklukkan tebing ini, saya dapat menaklukkan goa ini. Ingatlah bahwa sekuat apapun anda tidak akan dapat mengalahkan kekuatan alam. alam bebas adalah bagian representative dari tubuh dan kehidupan maka sudah sewajarnyalah kita untuk saling menghargai dengan bagian dari kehidupan kita. Tidak memotong sembarangan ketika membuka jalur mungkin ini terdengar sepele namun jika teman-teman sesama petualang memahami lebih dalam dengan tidak memotong sembarangan berapa ranting dan pohon yang kita selamatkan berapa kehidupan hewan yang lain yang kita selamatkan misalkan burung yang membuat sarang disitu atau bahkan semut yang menggantungkan kehidupanya dipohon tersebut.


Berpetualang di alam akan mengajarkan kita tentang arti menghargai antar sesama mahluk hidup, saling membantu dan tidak individualistis……    

Label: , ,