Dengan waktu tempuh 1 jam lebih, kapal Express Bahari
melaju membelah birunya laut. Gugusan pulau-pulau kecil nampak mempesona. Dari
kejauhan nampak samar nelayan yang sedang beraktifitas menangkap ikan.
Gelombang kecil ombak, membuat kapal ini oleng kiri dan kanan. Angin mulai terasa
membelai tubuh, pertanda kapal mulai melaju dengan kecepatan tinggi. kurebahkan
kepala di kursi, memejamkan mata sejenak, menghimpun kembali tenaga untuk
petualangan selanjutnya.
 |
| Kapal Express Bahari |
Pukul 12.28 waktu setempat, kapal merapat di Pelabuhan
Waren. Angkutan darat berupa ojek berdesak-desakan menawarkan jasanya. Satu hal
yang penting dan perlu anda ingat baik-baik adalah ketika anda ditawari ojek di
daerah ini (saya rasa juga berlaku untuk daerah-daerah lainnya) anda harus
menyebutkan alamat tujuan yang jelas dan menanyakan ongkosnya saat itu juga agar
tidak terjadi kesalah-pahaman nantinya. Untuk saat ini saya akan menuju ke
daerah Nonomi Distrik Urei Faisei dengan biaya ojek 15 ribu. Berdasarkan rekomendasi
teman di Serui, di Nonomi ada penginapan yang bisa saya tempati untuk sementara
dengan biaya nginap 150 ribu per hari. Keluar dari pelabuhan saya disambut
dengan spanduk bertuliskan “Selamat
Datang Di Waropen Negeri Seribu Bakau”. Ada rasa keingintahuan yang
mendalam terlintas dipikiran saya, namun saat ini rasa lapar dan gantuk lebih
besar ketimbang rasa penasaran dan saya masih memiliki waktu 2 hari untuk
membuktikan kebenaran sepanduk tersebut. Jadi langkah terbaik saat ini adalah
secepat mungkin menuju penginapan, makan siang dan beristirahat.
 |
| Sepanduk di Pelabuhan Waropen |
Distrik Urei Faisei adalah satu dari 6 distrik
yang ada di Kabupaten Waropen. Kabupaten Waropen di Provinsi Papua ini dibentuk
sebagai hasil pemekaran dari Kabupaten Yapen Waropen pada tahun 2003. Kota
Botawa adalah ibu kota dari kabupaten ini. berdasarkan keterangan dari penduduk
kata “Waropen” memiliki makna orang
yang berasal dari daerah pedalaman. Berdasarkan mitos yang berkembang di
masyarakat , orang-orang Waropen dulunya berasal dari daerah pedalaman (gunung
Tonater,Wamusopedai) akibat adanya air bah (masyarakat menyebutnya air ampuhan)
orang-orang ini hanyut hingga ke daerah pesisir Waropen Ambumi dan Roon di
Kabupaten Nabire dan Manokwari di sebelah barat dan waropen Ronari di sebelah
timur.
 |
| Pelabuhan Waropen |
Distrik Urei faisei disingkat Urfas memiliki 12 desa salah
satunya Desa Rorisi. Berdasarkan penuturan kepala desa nama Rorisi diambil dari
nama roh penjaga kawasan ini konon roh ini memiliki kekuatan untuk merubah
wujud, seperti merubah wujud menjadi binatang ataupun berubah wujud menjadi
manusia dengan paras yang cantik atau tampan (bukan GGS). Di desa ini terdapat
pasar distrik yang lumayan besar. Rata-rata pedagang di sini berasal dari wilayah
Sulawesi seperti Makassar, Bugis, Toraja, Manado, Buton, dan Jawa. Ada juga yang
berasal dari Sumatera tetapi jumlahnya tidak sebanyak pendatang dari Sulawesi
dan Jawa. Masyarakat pendatang ini rata-rata bermukim di sekitar pasar dan
hidup dengan berdagang kain, barang-barang sembako, membuka warung makan dan
lain-lain. Masyarakat asli Waropen menyebut orang-orang pendatang ini dengan
sebutan orang-orang Nusantara. Sejak kapan penyebutan itu berawal dan apakah
orang-orang Papua pada umumnya juga menyebut orang-orang pendatang itu sebagai
orang-orang Nusantara? Sepertinya butuh kajian yang lebih dalam. Namun jika
iya, maka ini adalah suatu kondisi yang menegaskan bahwa Papua pada masa lampau
tidak memiliki akses yang cukup dalam aktifitas Nusantara sehingga tidak merasa
bagian dari Nusantara.
 |
| Jalan Poros |
Infrastruktur di distrik ini masih sangat minim jalan di ibu
Kota Kabupaten yang membelah distrik ini juga masih jauh dari kata layak. Masih
banyak yang harus diperbaiki. Masyarkat di Distrik Urfas kebanyakan mengeluh
masaalah debu. Kondisi ini akan semakin parah jika memasuki musim kemarau
panjang, debu berterbangan hingga mengganggu warga yang bermukim di pinggir
jalan. Bagian pesisir dari wilayah ini cukup elok, namun pemerintah belum
mengelolanya dengan maksimal. Saya rasa jika pengembangan pariwisata bisa
berfokus ke daerah pesisir dari wilayah Waropen mungkin akan mampu meningkatkan
pendapatan masyarak secara khusus dan pendapatan daerah secara umum. Spanduk
yang bertuliskan “Selamat datang di Negeri Bakau” memang bukan isapan jempol
semata. Sepanjang wilayah pesisir kabupaten ini ditumbuhi hutan Bakau yang
sangat lebat. Kelebihan ini sebaiknya dimanfaatkan oleh masyarakat setempat
sebagai salah satu sumber pendapatan tentunya dengan didukung oleh stakeholder
tekait. Ekowisata-tracking mangrove misalnya, adalah satu dari beberapa contoh
pemanfaatan ekosistem ini. Lainnya, seperti home industry panganan yang berbahan
dasar magrove, seperti dodol buah bakau, sirup buah bakau dll.